New Normal dalam Kegiatan Belajar Mengajar


Postingan ini ditulis dalam suasana keprihatinan  penuh  kegalauan😐, kegalauan karena wabah mengancam molor kelulusan kuliah pasca sarjana. Tinggal mengambil data dari proses kegiatan belajar mengajar di sekolah, eh malah ada wabah covid-19, sehingga murid-murid terpaksa belajar di rumah. Ya gimana lagi, harus berdamai dengan keadaan. Berdamai agar kita bisa mengakali keadaan yang serba tak pasti ini. Yang tinggal mengambil data saja direpotkan oleh wabah apalagi yang sedang menjalani proses kegiatan belajar mengajar. Mari kita bahas beberapa permasalahan yang timbul dari keadaan ini.

Mengajar di era pandemi
Ketika wabah mulai, segera dicanangkan kegiatan belajar dari rumah. Lalu muncul beberapa alternatif salah satunya adalah pembelajaran daring. Namun banyak kendala dalam pembelajaran daring ini. Salah satunya ya pasti kuota internet. Banyak aplikasi yang mendukung pembelajaran daring ini. Zoom, google class, google meeting, skype dll. Kelihatannya mudah, janjian dengan murid, tinggal konek internet, jalankan aplikasi, dan pembelajaran dimulai. Namun di sini muncul masalah ketidakbiasaan, ketika dihadapan murid (offair di kelas) muncul imrovisasi-improvisasi di depan kelas. Hubungan timbal balik dengan murid terjadi secara langsung. Namun ketika belajar via aplikasi menjadi serasa monolog. Tidak bisa seleluasa mengeluarkan improvisasi, termasuk joke-joke segar pembangun suasana kelas. Belum lagi sempat beredar isu keamanan salah satu aplikasi yang digunakan untuk kelas daring. Sebetulnya bisa juga memberikan tugas, namun apakah semua murid bisa. Karena ketika masuk bab baru, murid belum sama sekali belajar, rasanya kok gak etis ngasih tugas bab tersebut. Belum lagi di tengah pandemi ini masuk bulan puasa kegiatan anak-anak juga tak bisa teratur. Mau belajar pagi ada yang bangun siang, mau belajar sore mereka bantu orang tua menyiapkan buka, mau belajar siang juga lemes😂 . Alhasil menurut pengalaman saya sangat gak maksimal. Eh ada loh guru yang memberikan tugas secara maksimal, dari sisi jumlah. Mungkin yang memberikan tugas banyak ini lagi semangat-semangatnya kerja dari rumah😄. 

Belajar di era pandemi
Menjadi murid dengan belajar dari rumah mungkin ada dua sisi. Sisi positip dan negatip. Pasti ada untung ada rugi. Mengingat pelajaran di indonesia ini kan banyak jumlahnya. Pada saat sekolah normal saja mereka masuk jam 07.00 sampai jam 15.30, bandingkan dengan mahasiswa terbaik yang hanya 24 sks atau 24 jam pelajaran seminggu. Begitu era belajar daring dimulai, maka kuota menjadi satu-satunya yang harus ada setelah perangkat. Ada perangkat tanpa kuota ya gak bisa jalan. Tapi kalau dihitung-hitung beli kuota bisa diganti menggunakan uang jajan😗. Kendala-kendala yang dihadapi murid selain kuota adalah tugas-tugas yang harus dikerjakan padahal belum diterangkan guru. Ok lah anggap kita pakai model pembelajaran inquiri, tetapi berapa persen murid yang siap dengan model pembelajaran tersebut. Mencari bahan belajar, menyelesaikan tugas sendiri. Belum lagi tugas yang banyak dari berbagai guru mata pelajaran, dan kadang harus divideokan. Padahal upload video ya butuh kuota lebih banyak. Ada loh yang mendapatkan banyak tugas, tugas satu belum selesai eh ada lagi tugas yang diberikan. Semoga tetap sehat kawan😄.

Baca Juga : BUNYI

New Normal dalam KBM
Di indonesia saya mengambil contoh SMA. Penjurusan di SMA ini dilakukan sejak kelas 10. Jurusan IPA dan IPS (sebetulnya masih ada lagi jursan Bahasa) dulu sempat MIA dan IIS. Namun ada pelajaran lintas minat yang menurut saya sangat mengganggu. Yang milih IPA masih harus belajar beberapa pelajaran IPS begitu pula sebaliknya. Belum lagi terdapat pelajaran yang lain.  Mengingat kegiatan belajar mengajar membutuhkan interaksi langsung, serta pandemi yang entah kapan berhenti, maka jika dipaksakan untuk membuka sekolah harus ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Jumlah peserta kbm di kelas. Mungkin bagi sekolah swasta tidak menjadi masalah karena jumlah perkelas sekitar 20 sudah memenuhi kriteria jarak kurang lebih 1-2 meter. Namun bagi sekolah negeri yang jumlahnya dua kali lipat perkelas jelas akan menjadi masalah kalau dimasukkan semua. Solusinya ya bisa membagi menjadi 2 kelas, gantian setiap hari masuk, nomor ganjil misalkan senin, rabu, jumat dan nomor absen genap selasa, kamis, sabtu.

2. Selalu tersedia tempat cuci tangan di depan kelas. Atau murid harus membawa hand sanitizer sendiri-sendiri. Juga jangan lupa stok masker yang bisa ganti-ganti setiap hari.

3. Pengurangan jam belajar. Siswa cukup belajar materi materi pokok saja. Misalkan anak IPA ya matematika wajib, matematika ips, fisika dan kimia. Kalau IPS ya ekonomi, geografi, sosiologi, sejarah dan matematika wajib. Jangan berikan mereka tugas sampai overdosis. Kalau SMK ya menyesuaikan saja.

4. Dibutuhkan kedisiplinan siswa untuk selalu pakai masker, rajin cuci tangan, kalau merasa tidak sehat jangan berangkat. Juga disiplin untuk langsung pulang begitu sekolah usai. Jangan nongkrong.

5. Dibutuhkan pembaruan kurikulum, yang mendukung new normal. Ini sih tugas menteri pendidikan, tetapi saya pikir perlu untuk merombak beberapa materi pelajaran yang akan ditempuh/dipelajari dalam kbm di sekolah, atau sudah waktunya pemberlakuan sistem sks. Perlu kajian yang tepat, cepat dan terukur. Percayalah di Indonesia banyak orang pinter pasti mampu untuk ini.

Semoga wabah ini segera berlalu dan pandemi berhenti, sehingga situasi menjadi seperti sedia kala, atau meski memasuki era new normal kita menjadi mudah untuk melakukan kegiatan yang kita senangi. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "New Normal dalam Kegiatan Belajar Mengajar"

Posting Komentar